1.Informasi
tentang pura besakih
Pura Besakih
adalah sebuah komplek pura yang terdiri dari 18 pura dan sebuah pura utama.
Kompleks Pura yang merupakan pusat kegiatan dari seluruh pura yang ada di Bali,
sekitar 70 kilometer dari kota Denpasar. Kompleks pura ini membentang di areal
seluas tiga kilometer persegi menghadap ke arah barat laut.
Pura Besakih didirikan oleh Rsi
Markandeya, seorang Brahmana yang pertama kali menyebarkan ajaran Hindu di
Bali. Saat itu, mula-mula Rsi Markandeya bertapa di gunung Hyang (konon gunung
Hyang adalah gunung Dieng yang berasal dari kata Di Hyang). Dalam semedinya, ia
mendapat pawisik berupa perintah agar beliau merabas hutan di ujung timur pulau
Dawa (Jawa). Saat itu pulau Jawa dan Bali masih merupakan satu daratan yang
belum dipisahkan oleh laut.
Berdasarkan bisikan gaib tersebut,
Rsi Markandeya berangkat ke arah timur bersama para pengiring-pengiringnya
kurang lebih sejumlah 8000 orang. Setiba di tempat yang dituju ia memerintahkan
semua pengiringnya merabas hutan belantara. Namun banyak pengiring yang sakit
dan mati.
Perabasan hutan pun dihentikan dan
Rsi Markandeya bermeditasi di gunung Raung, Jawa Timur, untuk merenungkan
kegagalan ini. Setelah sekian lama, Rsi Markandeya mencari hari baik untuk
melanjutkan kembali pembukaan daerah baru di ujung timur pulau Dawa. Kali ini
pengiringnya berjumlah 4000 orang.
Begitu tiba di tempat yang dituju,
sebelum melakukan pekerjaan, Rsi Markandeya bersemedi dan menggelar upacara.
Rsi Markandeya memendam sebuah kendi berisi pancadatu (lima jenis logam) yakni
emas, perak, tembaga, besi dan perunggu disertai mirah adi (permata utama), air
dan sesajen. Pendaman itu kemudian diperciki tirta (air suci). Oleh beliau,
tempat di mana sarana-sarana itu ditanam diberi nama Basuki yang berarti
selamat. Setelah itu, perabasan hutan tak menemui hambatan yang berarti. Lahan
terbuka yang mereka hasilkan kemudian dibagi-bagikan kepada para pengikut untuk
dijadikan sawah, tegal dan perumahan. Dan, wilayah itu kemudian dinamakan
dengan desa Basuki yang kini dikenal dengan Besakih.
Pura Pesimpangan
Pura terletak di sebelah timur jalan utama, di tempat yang agak terpencil. Pura ini merupakan tempat persinggahan saat kembali dari melelasti (upacara penyucian) di pantai Kelotok, Klungkung.
Pura terletak di sebelah timur jalan utama, di tempat yang agak terpencil. Pura ini merupakan tempat persinggahan saat kembali dari melelasti (upacara penyucian) di pantai Kelotok, Klungkung.
Pura Dalem Puri
Pura ini terletak di ujung paling selatan dari kompleks pura Besakih. Untuk mencapainya, dari jalan raya Anda harus berjalan kaki kira-kira 300 meter ke utara dan kemudian membelok ke barat di sebuah tempat yang agak terpencil. Pura ini adalah tempat pemujaan Bhatari Durga (dewi kematian). Di sekitar Pura Dalem Puri terdapat suatu tanah lapang yang agak luas yang dinamai Tegal Penangsaran.
Pura ini terletak di ujung paling selatan dari kompleks pura Besakih. Untuk mencapainya, dari jalan raya Anda harus berjalan kaki kira-kira 300 meter ke utara dan kemudian membelok ke barat di sebuah tempat yang agak terpencil. Pura ini adalah tempat pemujaan Bhatari Durga (dewi kematian). Di sekitar Pura Dalem Puri terdapat suatu tanah lapang yang agak luas yang dinamai Tegal Penangsaran.
Pura Manik Mas
Pura ini merupakan tempat pemujaan Dewi Pertiwi. Di tempat ini terlebih dahulu umat Hindu bersembahyang untuk menyucikan jasmani dan rohani sebelum bersembahyang di Pura Penataran Agung. Menurut cerita, di masa lalu para Raja ke Pura Besakih dengan menunggang kuda. Di sebelah selatan Pura Manik Mas mereka turun dari kuda, bersembahyang di pura tersebut, lalu melanjutkan perjalanan ke Pura Penataran Agung dengan berjalan kaki.
Pura ini merupakan tempat pemujaan Dewi Pertiwi. Di tempat ini terlebih dahulu umat Hindu bersembahyang untuk menyucikan jasmani dan rohani sebelum bersembahyang di Pura Penataran Agung. Menurut cerita, di masa lalu para Raja ke Pura Besakih dengan menunggang kuda. Di sebelah selatan Pura Manik Mas mereka turun dari kuda, bersembahyang di pura tersebut, lalu melanjutkan perjalanan ke Pura Penataran Agung dengan berjalan kaki.
Pura Bangun Sakti
Pura ini adalah tempat pemujaan Triantabhoga (Hyang Naga Basukih, Hyang Naga Sesa dan Hyang NagaTaksaka) yang merupakan symbol pelindung bumi dan seisinya.
Pura ini adalah tempat pemujaan Triantabhoga (Hyang Naga Basukih, Hyang Naga Sesa dan Hyang NagaTaksaka) yang merupakan symbol pelindung bumi dan seisinya.
Pura Ulun Kulkul
Pura Ulun Kulkul adalah tempat pemujaan Hyang Mahadewa. Sebuah kulkul (kentongan) besar terdapat di pura ini dan dipandang sebagai kulkul yang paling utama dan mulia dari pada semua kulkul yang ada di Bali. Hingga saat ini, masyarakat desa-desa di seluruh Bali masih menggunakan kulkul sebagai alat komunikasi untuk mengumpulkan warganya. Nah, setiap banjar (semacam RT) yang membuat kulkul baru, selalu memohon air suci di pura ini untuk memerciki kulkul tersebut agar memiliki inner power sehingga ‘panggilannya’ ditaati oleh masyarakat.
Pura Ulun Kulkul adalah tempat pemujaan Hyang Mahadewa. Sebuah kulkul (kentongan) besar terdapat di pura ini dan dipandang sebagai kulkul yang paling utama dan mulia dari pada semua kulkul yang ada di Bali. Hingga saat ini, masyarakat desa-desa di seluruh Bali masih menggunakan kulkul sebagai alat komunikasi untuk mengumpulkan warganya. Nah, setiap banjar (semacam RT) yang membuat kulkul baru, selalu memohon air suci di pura ini untuk memerciki kulkul tersebut agar memiliki inner power sehingga ‘panggilannya’ ditaati oleh masyarakat.
Pura Merajan Selonding
Di sebelah utara Pura Ulun Kulkul terdapat Pura Merajan Selonding. Dulu pura ini adalah pura keluarga raja Dalem Kesari Warmadewa yang diperkirakan pernah punya istana di Besakih bernama Bumi Kuripan. Lontar Raja Purana Besakih dan seperangkat gamelan kuno Selonding disimpan di pura ini. Selonding adalah cikal bakal musik Bali.
Di sebelah utara Pura Ulun Kulkul terdapat Pura Merajan Selonding. Dulu pura ini adalah pura keluarga raja Dalem Kesari Warmadewa yang diperkirakan pernah punya istana di Besakih bernama Bumi Kuripan. Lontar Raja Purana Besakih dan seperangkat gamelan kuno Selonding disimpan di pura ini. Selonding adalah cikal bakal musik Bali.
Pura Goa
Di utara Pura Manik Mas, sebelah timur jalan raya terdapat Pura Gua tempat Hyang Naga Basuki diistanakan. Di sebelah timur Pura ini terdapat sebuah sungai dan pada tebingnya ada sebuah gua besar. Tapi sekarang gua tersebut sudah tertimbun runtuhan tanah longsor. Menurut ceritera, gua itu tembus sampai ke pura Gua Lawah yang terdapat di pesisir pantai timut Kabupaten Klungkung.
Di utara Pura Manik Mas, sebelah timur jalan raya terdapat Pura Gua tempat Hyang Naga Basuki diistanakan. Di sebelah timur Pura ini terdapat sebuah sungai dan pada tebingnya ada sebuah gua besar. Tapi sekarang gua tersebut sudah tertimbun runtuhan tanah longsor. Menurut ceritera, gua itu tembus sampai ke pura Gua Lawah yang terdapat di pesisir pantai timut Kabupaten Klungkung.
Pura Banua
Pura Banua terletak di sebelah timur jalan raya yaitu di timur areal parkir kendaraan. Pura ini adalah tempat pemujaan Dewi Sri, penguasa kemakmuran dalam bentuk hasil alam.
Pura Banua terletak di sebelah timur jalan raya yaitu di timur areal parkir kendaraan. Pura ini adalah tempat pemujaan Dewi Sri, penguasa kemakmuran dalam bentuk hasil alam.
Pura Merajan Kanginan
Letaknya di sebelah timur Pura Banua. Pura ini merupakan tempat pemujaan Bhatara Rambut Sedana, penguasa kemakmuran dalam wujud harta-benda.
Letaknya di sebelah timur Pura Banua. Pura ini merupakan tempat pemujaan Bhatara Rambut Sedana, penguasa kemakmuran dalam wujud harta-benda.
Pura Hyang Galuh (Jenggala)
Di pura ini terdapat beberapa patung batu kuno menyerupai seorang resi, garuda dan lainnya yang sakral. Banyak sekali kepercayaan menyangkut pura ini. Ada yang mengatakan sebagai stana Hyang Prajapati, ada yang mengatakan sebagai bekas pertapaan Dyah Kulputih, ada yang mengatakan pemujaan Dewa Melanting (penguasa pasar).
Di pura ini terdapat beberapa patung batu kuno menyerupai seorang resi, garuda dan lainnya yang sakral. Banyak sekali kepercayaan menyangkut pura ini. Ada yang mengatakan sebagai stana Hyang Prajapati, ada yang mengatakan sebagai bekas pertapaan Dyah Kulputih, ada yang mengatakan pemujaan Dewa Melanting (penguasa pasar).
Pura Basukihan
Di Pura inilah Rsi Markandeya memendam pancadatu (lima jenis logam) dan sesajen saat pertama kali membuka lahan di lambung gunung agung itu. Pura ini adalah satu dari tiga pura yang menjadi induk pura kahyangan tiga yang tersebar di seluruh desa di Bali. Dua pura lainnya adalah Pura Penataran Agung dan Pura Dalem Puri.
Di Pura inilah Rsi Markandeya memendam pancadatu (lima jenis logam) dan sesajen saat pertama kali membuka lahan di lambung gunung agung itu. Pura ini adalah satu dari tiga pura yang menjadi induk pura kahyangan tiga yang tersebar di seluruh desa di Bali. Dua pura lainnya adalah Pura Penataran Agung dan Pura Dalem Puri.
Pura Penataran Agung
Inilah pura utama dari kompleks Pura Besakih. Di pura ini terdapat Padmatiga yaitu sarana pemujaan Tuhan dalam wujud Sang Hyang Tri Purusa yaitu jiwa agung alam semesta. Purusa artinya jiwa atau hidup. Tuhan sebagai jiwa dari Bhur Loka (alam bawah) disebut Siwa, sebagai jiwa Bhuwah Loka (alam tengah) disebut Sadha Siwa dan sebagai jiwa dari Swah Loka (alam atas) disebut Parama Siwa.
Inilah pura utama dari kompleks Pura Besakih. Di pura ini terdapat Padmatiga yaitu sarana pemujaan Tuhan dalam wujud Sang Hyang Tri Purusa yaitu jiwa agung alam semesta. Purusa artinya jiwa atau hidup. Tuhan sebagai jiwa dari Bhur Loka (alam bawah) disebut Siwa, sebagai jiwa Bhuwah Loka (alam tengah) disebut Sadha Siwa dan sebagai jiwa dari Swah Loka (alam atas) disebut Parama Siwa.
Untuk masuk ke pura ini Anda harus
melewati sebuah gapura besar dengan lebih dari seratus undak anak tangga.
Gapura ini menghadap ke arah barat laut, persis berhadap-hadapan dengan gapura
Pura Uluwatu yang terdapat di ujung barat daya Pulau Bali, yang juga dibangun
oleh Rsi Markandeya.
Menurut lontar Raja Purana Besakih,
pura Penataran Agung Besakih adalah tempat berkumpulnya seluruh dewa-dewa.
Pura Batu Madeg
Untuk sampai ke pura ini Anda harus berjalan kaki ke arah barat daya. Pura ini adalah tempat pemujaan khusus Dewa Wisnu, manisfestasi Tuhan sebagai pelindung alam semesta. Di pura inilah masyarakat memohon keselamatan bila hendak membuat bendungan besar dan memohon agar sawah mereka selalu subur.
Untuk sampai ke pura ini Anda harus berjalan kaki ke arah barat daya. Pura ini adalah tempat pemujaan khusus Dewa Wisnu, manisfestasi Tuhan sebagai pelindung alam semesta. Di pura inilah masyarakat memohon keselamatan bila hendak membuat bendungan besar dan memohon agar sawah mereka selalu subur.
Semua atribut bangunan di pura ini
berwarna hitam. Karena letaknya agak tersembunyi dari jalan utama, nggak banyak
wisatawan mengunjungi pura besar ini.
Pura Batu Kiduling Kreteg
Letaknya di sebelah selatan Pura Penataran Agung, melewati jalan setapak dan menyeberangi sebuah sungai kering. Pura ini tempat pemujaan khusus Dewa Brahma, manisfestasi Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Semua atribut bangunan di pura ini berwarna merah.
Letaknya di sebelah selatan Pura Penataran Agung, melewati jalan setapak dan menyeberangi sebuah sungai kering. Pura ini tempat pemujaan khusus Dewa Brahma, manisfestasi Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Semua atribut bangunan di pura ini berwarna merah.
Hampir serupa dengan Pura Batu
madeg, karena letak pura ini agak jauh dari jalan utama, nggak banyak wisatawan
mengunjungi pura besar ini.
Pura Gelap
untuk mencapai pura ini Anda harus menapaki jalan menanjak di sebelah Pura Penataran Agung. Pura ini adalah tempat pemujaan Dewa Iswara, pemberi kedamaian pikiran dan kesejahteraan hidup. Semua atribut bangunan di pura ini berwarna putih.
untuk mencapai pura ini Anda harus menapaki jalan menanjak di sebelah Pura Penataran Agung. Pura ini adalah tempat pemujaan Dewa Iswara, pemberi kedamaian pikiran dan kesejahteraan hidup. Semua atribut bangunan di pura ini berwarna putih.
Karena menanjak cukup jauh,
kebanyakan wisatawan mengurungkan niatnya mengunjungi pura besar ini.
Pura Pengubengan
Inilah pura yang lokasinya terletak di areal yang tertinggi. Untuk mencapai pura ini Anda harus bejalan kaki selama sekitar 30 menit langkah normal. Pura ini diyakini sebagai tempat pertemuan para dewa sebelum berkumpul di Pura Penataran Agung saat diselenggarakan upacara-upacara besar.
Inilah pura yang lokasinya terletak di areal yang tertinggi. Untuk mencapai pura ini Anda harus bejalan kaki selama sekitar 30 menit langkah normal. Pura ini diyakini sebagai tempat pertemuan para dewa sebelum berkumpul di Pura Penataran Agung saat diselenggarakan upacara-upacara besar.
Masyarakat Hindu yang berniat
mempersembahkan sesajen ke puncak gunung Agung namun tidak sanggup mendaki,
menghaturkan persembahannya melalui Pura Pengubengan ini. Karena ketinggian
lokasinya, dari pura ini pemandangan alam Bali tampak sangat indah. Meski
begitu, tak banyak wisatawan yang memiliki waktu untuk mengunjungi pura ini.
Pura Batu Tirtha
Letaknya berdekatan dengan Pura Pengubengan, sekitar -kira 10 menit perjalanan normal. Di pura ini terdapat sumber air suci yang dipergunakan pada upacara-upacara besar di Pura Besakih ataupun di pura-pura desa di seluruh Bali
Letaknya berdekatan dengan Pura Pengubengan, sekitar -kira 10 menit perjalanan normal. Di pura ini terdapat sumber air suci yang dipergunakan pada upacara-upacara besar di Pura Besakih ataupun di pura-pura desa di seluruh Bali
Pura Batu Peninjoan
Pura ini berdekatan dengan Pura Batu Madeg. Untuk mencapainya Anda harus berjalan melalui jalan setapak menuruni lembah dan menyelusuri pinggiran sungai kering. Perjalanan kurang lebih atarara 15 sampai 25 menit. Di pura ini, dahulu Empu Kuturan, pendeta yang datang ke Bali setelah Rsi Markandeya, meninjau wilayah desa Besakih sewaktu beliau merencanakan perluasan Pura Besakih. Di tempat inilah Empu Kuturan melakukan semedi setiap kali datang ke Besakih. Mpu Kuturanlah peletak tata cara pembangunan pura dan perumahan yang sampai sekarang masih dipraktekkan oleh masyarakat Hindu di Bali.
Pura ini berdekatan dengan Pura Batu Madeg. Untuk mencapainya Anda harus berjalan melalui jalan setapak menuruni lembah dan menyelusuri pinggiran sungai kering. Perjalanan kurang lebih atarara 15 sampai 25 menit. Di pura ini, dahulu Empu Kuturan, pendeta yang datang ke Bali setelah Rsi Markandeya, meninjau wilayah desa Besakih sewaktu beliau merencanakan perluasan Pura Besakih. Di tempat inilah Empu Kuturan melakukan semedi setiap kali datang ke Besakih. Mpu Kuturanlah peletak tata cara pembangunan pura dan perumahan yang sampai sekarang masih dipraktekkan oleh masyarakat Hindu di Bali.
Dari Pura Peninjoan, semua
pelinggih di Pura Penataran Agung dapat dilihat dengan jelas. Demikian juga
pantai dan daratan pulau Bali bagian selatan tampak terbentang indah.
Untukmenghormati adat istiadat
setempat, ketika berkunjung ke pura Besakih kenakanlah busana yang rapi dengan
kain dan selendang. Anda tidak diperkenankan memasuki areal pura tanpa
menggunakan selendang. Jika lupa membawa kain dan selendang, Anda bisa sewa di
penyewaan yang letaknya tak jauh dari pintu masuk
2.hari piodalan
BESAKIH DAN YADNYA
Ini Merupakan penjelasan singkat mengenai Upacara/yadnya yg di laksanakan di pura Besakih. Yang mana Sistem upacara umat Hindu di Bali,utamanya upacara2 besar seperti Panca Balikrama,Eka Dasa Rudra dan yg lainya di selenggarakan pada saat Terpilih dan juga Tempat yg terpilih. Ketika matahari dan bulan tepat diatas khatulistiwa garis yg membelah Bumi,ini adalah waktu yg terpilih untuk melaksanakan Karya Agung Panca Balikrama maupun Eka Dasa Rudra.
Ini Merupakan penjelasan singkat mengenai Upacara/yadnya yg di laksanakan di pura Besakih. Yang mana Sistem upacara umat Hindu di Bali,utamanya upacara2 besar seperti Panca Balikrama,Eka Dasa Rudra dan yg lainya di selenggarakan pada saat Terpilih dan juga Tempat yg terpilih. Ketika matahari dan bulan tepat diatas khatulistiwa garis yg membelah Bumi,ini adalah waktu yg terpilih untuk melaksanakan Karya Agung Panca Balikrama maupun Eka Dasa Rudra.
PANCA BALIKRAMA
Bertepatan dengan Tilem Caitra/ Tilem Kasanga saka 1930, tgl 25 maret 2009 Umat Hindu Indonesia kembali menggelar Karya Agung Panca Bali Krama. Upacara Agung ini di gelar sepuluh tahun sekali. Yaitu pada 'Tilem caitra' ketika tahun Saka berahir dengan 0, atau rah Windhu. Upacara ini di gelar di kaki Gunung Agung, di bencingah Agung Pura Besakih. Di tempat yg sama telah beberapa kali di gelar Tawur Agung di antaranya pd tahun 1933, 1960 dan 1978. Karya Agung Panca Bali Krama yg di selenggarakan pd saat itu lebih sebagai karya Paneregteg. yaituupacara yadnya yg di selenggarakan karena telah cukup lama karya tersebut tidak di Gelar.
Seperti halnya Karya Agung EkaDasa Rudra yg diadakan pada tahun 1963 adalah yadnya Peneregteg, karya yg semestinya diadakan setiap seratus tahun sekali itu. Pada saat tahun saka berahir 00. Atau rah windu tenggek windu.. Yg mana karya tersebut sudah tidak diadakan lagi...
Panca Bali Krama
Karya Agung Panca Bali Krama yg jatuhnya bertepatan dg rah windhu telah di laksanakan pd tilem Caitra th Saka 1910 (8 maret 1989) dan Saka 1920 (17 maret 1999) dan Saka 1930 (maret 2009). Sedangkan pada Saka 1900 (maret 1979) Karya Agung Eka Dasa Rudra di gelar sesuai dg petunjuk Lontar 'Indik Ngeka Dasa Rudra'.yg mana di jadikan pegangan di dalam penyelenggaraan upacara tersebut. Yaitu di selenggarakan pada tahun Saka berahir dg windu Turas atau Rah Windhu Tenggek Windhu. Disebutkan pula besar sekali terjadinya perubahan Alam/ jagat,maka saat itu di pakai atau di pilih untuk melaksanakan Tawur Jagat di BALI.. Yaitu setiap sepuluh tahun di sebut Panca Bali Krama/ Panca Wali Krama di Besakih. Setelah Panca Bali Krama sepuluh kali disebut Windhu Turas,barulah mengadakan Eka Dasa Rudra, di sebut juga Rah Windhu Tenggek Windhu. Upacara Agung Eka Dasa Rudra terangkai secara utu h dg upacara Candi Narmada di selenggarakan pd th 1993. Panca Bali Krama Ring Danu pd th 1993 ,Karya Agung Tribuana pd th 1993,dan Karya Agung Eka Buana pd th 1996. Dengan demikian upacara Eka Dasa Rudra dan Panca Bali Krama diadakan setiap kurun waktu tertentu. Tetapi Panca Bali Krama dapat juga diadakan pd saat2 tertentu sesuai dengan keperluan. Oleh karena ada beberapa Jenis Panca Bali Krama...
Karya Agung Panca Bali Krama
yg jatuhnya bertepatan dg rah windhu telah di laksanakan pd tilem Caitra th Saka 1910 (8 maret 1989) dan Saka 1920 (17 maret 1999) dan Saka 1930 ( maret 2009). Sedangkan pada Saka 1900 (maret 1979) Karya Agung Eka Dasa Rudra di gelar sesuai dg petunjuk Lontar 'Indik Ngeka Dasa Rudra'.yg mana di jadikan pegangan di dalam penyelenggaraan upacara tersebut. Yaitu di selenggarakan pada tahun Saka berahir dg windu Turas atau Rah Windhu Tenggek Windhu. Disebutkan pula besar sekali terjadinya perubahan Alam/ jagat,maka saat itu di pakai atau di pilih untuk melaksanakan Tawur Jagat di BALI.. Yaitu setiap sepuluh tahun di sebut Panca Bali Krama/ Panca Wali Krama di Besakih. setelah Panca Bali Krama sepuluh kali disebut Windhu Turas,barulah mengadakan Eka Dasa Rudra, di sebut juga Rah Windhu Tenggek Windhu.
Upacara Agung Eka Dasa Rudra terangkai secara utu h dg upacara Candi Narmada di selenggarakan pd th 1993. Panca Bali Krama Ring Danu pd th 1993 ,Karya Agung Tribuana pd th 1993,dan Karya Agung Eka Buana pd th 1996. Dengan demikian upacara Eka Dasa Rudra dan Panca Bali Krama diadakan setiap kurun waktu tertentu. Tetapi Panca Bali Krama dapat juga diadakan pd saat2 tertentu sesuai dengan keperluan. Oleh karena ada beberapa Jenis Panca Bali Krama...
3.nama
pengurus pura besakih
Periode 2012-2015
|
Ketua Umum
|
Drs. I
Gusti Made Pucaksana
|
|
Ketua I
|
I Gusti
Ngurah Adi Putra, S. ST. PAr
|
|
Ketua II
|
I Gusti
Ngurah Darmawan
|
|
Sekretaris
Umum
|
I Gusti
Ngurah Alit Aningrat, ST
|
|
Sekretaris
I
|
I Gusti
Made Suastika
|
|
Sekretaris
II
|
I Gusti
Ngurah Darmada
|
|
Bendahara
Umum
|
I Gusti
Ngurah Arya Putra, SE
|
|
Bendahara
I
|
Drs. I
Gusti Ngurah Sukarsana
|
|
Bendahara
II
|
I Gusti
Putu Alit Pupul
|
|
Bidang
Pembangunan
|
|
|
Ketua
|
Drs. I
Gusti Ngurah Sumerta
|
|
Wakil
|
I Gusti
Ngurah Ardibawa
|
|
Anggota
|
1. I Gusti
Ngurah Taram
|
|
2. I Gusti
Ketut Candi
|
|
|
3. I Gusti
Ngurah Arnawa
|
|
|
4. I Gusti
Nyoman Susanta, S.Pd.
|
|
|
5. I Gusti
Made Sukerta
|
|
|
Bidang
Dana
|
|
|
Ketua
|
I Gusti
Ngurah Rencana, SH
|
|
Wakil
|
I Gusti
Nyoman Aryana, SE
|
|
Bendahara
|
I Gusti
Nyoman Widiadnya
|
|
Anggota
|
1. I Gusti
Made Putra Adnyana
|
|
2. I Gusti
Made Suartana
|
|
|
3. I Gusti
Ngurah Dyana, SH
|
|
|
4. I Gusti
Ketut Wirapati
|
|
|
5. I Gusti
Nyoman Wirata, SE
|
|
|
Bidang
Sosial Kemasyarakatan dan Litbang
|
|
|
Ketua
|
I Gusti
Nyoman Alit, SH
|
|
Sekretaris
|
I Gusti
Ngurah Putra Wigangga, ST
|
|
Koordinator
|
Drs. I
Gusti Ngurah Suputra Wijaya
|
|
Koordinator
|
Drs. I
Gusti Made Subrata, M. Ag.
|
|
Anggota
|
1. I Gusti
Ngurah Pramita Sanjaya, SP
|
|
2. I Gusti
Putu Puji
|
|
|
3. I Gusti
Putu Sukada, AMd
|
|
|
4. I Gusti
Putu Raka
|
|
|
5. I Gusti
Bagus Nala Artha, ST
|
|
|
6. I Gusti
Ngurah Supata
|
|
|
7. I Gusti
Ngurah Suanda Putra, SE
|
|
|
8. I Gusti
Putu Fajar Pranadi Sudhana, S. Kom.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar